KEUTAMAAN SAPI SEBAGAI HEWAN QURBAN

Berdasarkan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat Jum’at : Barang siapa pergi ( ke masjid untuk shalat Jum’at ) pada jam pertama maka seakan-akan dia telah berqurban dengan seekor unta, dan barang siapa pergi pada jam kedua maka seakan-akan dia telah berqurban dengan seekor sapi, dan barang siapa pergi pada jam ketiga maka seakan-akan dia telah berqurban dengan seekor domba yang bertanduk, dan barang siapa pergi pada jam keempat maka seakan-akan dia telah berqurban dengan seekor ayam, dan barang siapa pergi pada jam kelima maka seakan-akan dia telah berqurban dengan sebutir telur. (HR. Ahmad, Malik, Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi). Hadits di atas menunjukkan mufadhalah (mengutamakan satu dengan lainnya), sehingga dapat disimpulkan bahwa yang utama dalam ber-qurban adalah dengan seekor unta, kemudian seekor sapi dan selanjutnya dengan seekor domba. Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu mengatakan, “Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Idul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor unta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang. Keterangan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu tersebut mendukung hadits tersebut diatas bahwa seekor unta lebih utama dari seekor sapi dengan mengatakan bahwa seekor unta dapat digunakan untuk ber-qurban sepuluh orang sedangkan seekor sapi “hanya” bisa digunakan ber-qurban oleh tujuh orang. Imam Ibnu Utsaimin mengatakan: Satu kambing sah untuk qurban satu orang. Sementara sepertujuh onta atau sapi, sah untuk qurban senilai satu kambing. Jika ada dua orang atau lebih, urunan untuk qurban satu kambing, kemudian mereka jadikan qurban, ini hukumnya tidak boleh, dan qurbannya tidak sah, kecuali untuk onta atau sapi, maksimal 7 orang saja. Karena qurban adalah ibadah kepada Allah. Karena itu, tidak boleh dilaksanakan kecuali dengan aturan yang ditetapkan syariat, baik terkait waktu, jumlah orang yang ikut, atau tata caranya. Yang perlu kita garis bawahi dari keterangan yang disampaikan oleh Imam Ibnu Utsaimin diatas adalah bahwa “…sepertujuh onta atau sapi, sah untuk qurban senilai satu kambing…”. Dari ketiga keterangan tersebut diatas kita dapat menarik “benang merah” bahwa keutamaan qurban adalah dengan unta kemudian sapi dan terakhir adalah domba. Dan bahwa seekor sapi (dan unta) disetarakan dengan tujuh ekor domba. Dengan berasumsi bahwa kondisi unta, sapi dan kambing tersebut adalah “standar”, dikaitkan juga dengan kondisi geografis Indonesia, “kesetaraan” hewan qurban tersebut (dari sisi ekonomi/harga) mungkin perlu “ditinjau kembali”. Indonesia mungkin bukan habitat yang ideal buat unta, sehingga unta menjadi suatu jenis binatang yang kurang umum dijumpai di Indonesia (kecuali di kebun binatang). Sedangkan binatang sapi dan domba sudah biasa kita jumpai diberbagai tempat di Indonesia. Dengan demikian “secara alamiah” (khususnya untuk Indonesia) “idealnya” binatang qurban itu adalah sapi karena harga seekor sapi secara relatif masih bisa disetarakan dengan harga tujuh ekor domba (seperti yang disampaikan oleh Imam Ibnu Utsaimin diatas). Sedangkan harga seekor unta di Indonesia (kalaupun ada) tentunya secara relatif tidak akan sama dengan harga seekor sapi atau harga tujuh ekor domba. Ketika kita “sepakat” bahwa sapi adalah hewan qurban yang “ideal” (secara alamiah) untuk berqurban di Indonesia, pertanyaan selanjutnya adalah sapi yang bagaimana yang disebut “ideal” tersebut? Untuk onta dan sapi, Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.”. Yang dimaksud musinnah disini adalah hewan ternak yang sudah dewasa. Dalam hal ini sapi yang sudah dianggap dewasa adalah yang sudah mencapai umur minimal dua tahun. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang cacat hewan apa yang harus dihindari ketika berqurban. Beliau menjawab: “Ada empat cacat… dan beliau berisyarat dengan tangannya.” (HR. Ahmad & Abu Daud, dinyatakan Hasan-Shahih oleh Turmudzi). Sedangkan Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan bahwa orang yang berqurban disunnahkan untuk memilih hewan qurban yang besar dan gemuk. Pada suatu kesempatan Abu Dzar radhiallahu’anhu tertanya kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam tentang budak yang lebih utama. Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bersabda; “Yaitu budak yang lebih mahal dan lebih bernilai dalam pandangan pemiliknya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut dapat menganalogikan bahwa hewan qurban yang besar dan gemuk itu yang lebih utama untuk dijadikan hewan qurban.. Terlepas dari itu semua, “…barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu adalah berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32). Kemudian Rasulullah juga bersabda :”Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang murni dan hanya mengharap ridho Allah”. [HR. Abu Dawud dan Nasa'i]. Daftar harga produk dan alamat kami klik disini. Informasi jasa penjualan aqiqah bandung, qurban bandung, dan tabungan qurban bandung (untuk sapi dan domba) di 0838.2701.5733 / 0813.9533.7795. ikuti tabungan qurban (terutama tabungan sapi) yang dapat anda gunakan untuk keperluan anda sendiri atau dapat anda jual kembali. aqiqahmurahbandung.com penyedia aqiqah dan qurban untuk area bandung cimahi)

Anda baru memiliki anak yang akan di aqiqahkan? klik di Tempat Kambing Berkualitas ayoo pesan sekarang juga, Kontak Customer service kami, SMS atau Telepon di 0838.2701.5733 /0813.9533.7795.



Leave a Reply